WIFI Alokasikan Rp 5,9 Triliun dari Rights Issue untuk Internet Rakyat: Akses Internet Murah Segera Menyebar?

WIFI Alokasikan Rp 5,9 Triliun dari Rights Issue untuk Internet Rakyat: Akses Internet Murah Segera Menyebar?

Bayangkan kalau internet cepat dan murah bisa dinikmati jutaan keluarga di Indonesia tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam. Itulah yang sedang dikejar PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), atau yang lebih dikenal sebagai Surge. Baru-baru ini, perusahaan ini memutuskan mengalihkan seluruh dana hasil rights issue senilai hampir Rp 6 triliun khusus untuk proyek Internet Rakyat (IRA). Keputusan ini disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 8 April 2026.

Bagi kamu yang sering kesal karena sinyal lemot atau paket data mahal, berita ini bisa jadi angin segar. WIFI tidak main-main: dana besar ini akan dipakai untuk mempercepat layanan internet berbasis 5G Fixed Wireless Access (FWA) di frekuensi 1,4 GHz. Targetnya? Membangun ribuan titik jaringan baru dan menjangkau hingga 5 juta pelanggan di akhir 2026.

Artikel ini akan bahas lengkap soal langkah WIFI ini, apa itu Internet Rakyat, bagaimana dana rights issue dipakai, serta dampaknya buat masyarakat biasa. Yuk, simak sampai habis!

Apa Itu Proyek Internet Rakyat (IRA) dari WIFI?

Internet Rakyat atau IRA adalah inisiatif WIFI untuk menyediakan internet cepat dengan harga terjangkau bagi masyarakat yang selama ini kurang terlayani. Berbeda dengan layanan fiber optik yang butuh kabel fisik mahal, IRA memanfaatkan teknologi 5G FWA. Teknologi ini memungkinkan sinyal internet dikirim secara nirkabel langsung ke rumah atau perangkat pelanggan.

Keunggulan utamanya? Biaya pemasangan lebih murah dan cepat. Manajemen WIFI menyebut layanan ini bisa ditawarkan dengan harga sekitar Rp 100.000 per bulan. Itu jauh lebih ramah kantong dibanding paket premium yang sering mencapai ratusan ribu rupiah.

Proyek ini fokus pada rumah tangga di area yang belum tersentuh infrastruktur fiber secara masif. Dengan dana rights issue Rp 5,9 triliun, WIFI ingin mempercepat komersialisasi IRA yang baru diluncurkan. Sebelumnya, dana ini direncanakan untuk FTTH (Fiber to the Home), tapi sekarang diprioritaskan ke IRA karena dianggap lebih efisien dan skalabel.

Bayangkan analoginya seperti ini: kalau fiber optik seperti membangun jalan tol beton yang mahal tapi permanen, maka 5G FWA seperti membangun jalan aspal cepat yang bisa langsung dipakai banyak orang tanpa harus gali tanah di mana-mana.

Detail Alokasi Dana Rights Issue Rp 5,9 Triliun

Pemegang saham WIFI sudah sepakat: seluruh dana hasil rights issue Rp 5,9 triliun dialokasikan 100% untuk proyek IRA. Tidak ada yang dipakai untuk keperluan lain.

Berikut rincian alokasi utamanya:

  • Rp 5,1 triliun untuk pengadaan perangkat CPE (Customer Premises Equipment) dan RAN (Radio Access Network). Ini perangkat yang dipasang di rumah pelanggan dan infrastruktur pemancar sinyal.
  • Rp 403,8 miliar untuk biaya IPFR tahunan spektrum frekuensi 1,4 GHz.
  • Rp 421 miliar untuk modal kerja proyek, termasuk operasional dan pengembangan layanan.

Dana ini akan disalurkan melalui anak usaha: dari WIFI ke PT Jaringan Infra Andalan (JIA), lalu ke PT Telemedia Komunikasi Pratama (TKP) sebagai operator utama IRA.

Dengan injeksi modal sebesar ini, WIFI bisa agresif ekspansi. Target tahun 2026 adalah membangun 5.500 titik atau sites baru. Potensinya? Menjangkau hingga 5 juta pelanggan di akhir tahun tersebut. Fokus awal kemungkinan besar masih di Pulau Jawa, di mana populasi padat dan kebutuhan konektivitas tinggi.

Perubahan alokasi ini menunjukkan fleksibilitas WIFI dalam menyesuaikan strategi. Awalnya rights issue (yang dilakukan tahun 2025) ditujukan untuk ekspansi fiber, tapi melihat peluang IRA yang lebih cepat menghasilkan revenue, mereka pivot dengan cepat.

Mengapa WIFI Memilih Fokus ke Internet Rakyat?

Indonesia masih punya kesenjangan digital yang cukup besar. Banyak daerah di luar kota besar yang akses internetnya lambat atau mahal. Pemerintah memang mendorong pemerataan konektivitas, tapi butuh peran swasta yang kuat.

WIFI melihat IRA sebagai “motor pertumbuhan baru” mulai 2026. Teknologi 5G FWA di frekuensi 1,4 GHz punya coverage luas dan biaya operasional yang lebih efisien dibanding fiber di area tertentu. Plus, permintaan internet rumah tangga terus naik seiring kerja hybrid, belajar online, dan streaming.

Dengan harga Rp 100.000-an per bulan, IRA bisa menarik segmen menengah ke bawah yang selama ini bergantung pada paket mobile data yang sering habis kuota. Ini bukan sekadar bisnis, tapi juga kontribusi nyata mengurangi digital divide di Indonesia.

Afiliasi dengan nama besar seperti Hashim Djojohadikusumo juga memberi bobot. Perusahaan ini punya pengalaman di infrastruktur digital, termasuk kerjasama fiber optik di jalur kereta api sebelumnya. Sekarang, mereka geser prioritas ke solusi nirkabel yang lebih cepat diimplementasikan.

Dampak untuk Masyarakat dan Pelanggan

Buat masyarakat biasa, manfaatnya bisa langsung terasa:

  • Harga lebih terjangkau — Internet rumah dengan kecepatan tinggi tanpa harus bayar mahal.
  • Pemasangan cepat — Karena nirkabel, tidak perlu tunggu lama seperti pasang fiber.
  • Jangkauan lebih luas — Terutama di pinggiran kota atau area suburban yang belum ter-cover maksimal.
  • Potensi ekonomi — Pelaku UMKM bisa lebih lancar jualan online, anak sekolah belajar tanpa gangguan, dan keluarga tetap terhubung.

Kalau target 5 juta pelanggan tercapai, ini berarti jutaan rumah tangga bisa upgrade koneksi mereka. Tentu saja, kualitas layanan harus terjaga. WIFI perlu memastikan bahwa sinyal stabil dan kecepatan sesuai janji, apalagi di area padat pengguna.

Bagi investor saham, keputusan ini bisa dilihat sebagai langkah strategis. Rights issue yang oversubscribed tahun lalu menunjukkan kepercayaan pasar. Sekarang, dengan dana benar-benar dipakai untuk proyek berpotensi high-growth seperti IRA, prospek revenue jangka pendek bisa lebih cerah.

Tantangan dan Risiko yang Perlu Diwaspadai

Tidak ada proyek besar tanpa tantangan. Beberapa hal yang mungkin jadi batu sandungan:

  • Persaingan ketat — Operator besar seperti Telkom, XL, atau provider lain juga ekspansi di segmen internet rumah.
  • Regulasi spektrum — Ketergantungan pada frekuensi 1,4 GHz berarti harus patuh pada aturan pemerintah soal biaya lisensi.
  • Kualitas infrastruktur — Perangkat CPE dan RAN harus handal agar tidak banyak keluhan pelanggan.
  • Ekspansi di luar Jawa — Kalau sukses di Jawa, tantangan berikutnya adalah daerah lain dengan geografis lebih sulit.

WIFI sepertinya sadar dengan ini. Itu sebabnya dana rights issue difokuskan dulu ke perangkat dan modal kerja, bukan sekadar membangun coverage tanpa dukungan operasional.

Apa yang Bisa Kita Harapkan ke Depan?

Tahun 2026 bakal jadi tahun krusial buat WIFI dan proyek Internet Rakyat. Kalau 5.500 titik sites berhasil dibangun dan jutaan pelanggan bergabung, ini bisa jadi game changer di industri telekomunikasi Indonesia.

Bagi kamu yang tertarik investasi, pantau terus kinerja anak usaha TKP dan update komersialisasi IRA. Buat masyarakat umum, siapkan diri kalau layanan ini mulai tersedia di daerahmu — mungkin ini saatnya beralih ke internet rumah yang lebih hemat dan stabil.

Secara keseluruhan, langkah WIFI mengalokasikan Rp 5,9 triliun untuk Internet Rakyat menunjukkan komitmen serius memperluas akses digital. Ini bukan cuma soal bisnis, tapi juga soal membuat internet menjadi hak yang lebih merata bagi rakyat.

Kamu sendiri gimana? Sudah siap upgrade ke internet murah ala IRA? Atau ada pertanyaan lain soal proyek ini? Share di komentar ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *