Kenapa Warga Iran yang Mau Tumbangkan Rezim Berbalik Kutuk Israel-AS?

Kenapa Warga Iran yang Mau Tumbangkan Rezim Berbalik Kutuk Israel-AS?

Bayangkan ini: kamu sudah muak banget sama pemerintahan yang menekan kebebasan, bikin ekonomi ambruk, dan bikin hidup sehari-hari susah. Kamu turun ke jalan, teriak “Mati Rezim!” atau “Woman, Life, Freedom”. Tapi tiba-tiba, bom dan rudal dari luar negeri mulai menghujani kota-kota kamu. Rumah-rumah rusak, listrik mati, sekolah dan infrastruktur hancur. Dalam situasi seperti itu, siapa yang paling kamu salahkan pertama kali?

Banyak warga Iran yang sebenarnya ingin tumbangkan rezim justru berbalik kutuk Israel-AS. Fenomena ini lagi ramai dibahas akhir-akhir ini, terutama setelah serangkaian serangan militer yang menargetkan infrastruktur rezim. Mereka yang dulu berharap bantuan luar negeri buat gulingkan pemimpin, sekarang malah merasa “kami diserang, bukan dibebaskan”.

Artikel ini bakal bahas kenapa hal ini bisa terjadi. Bukan sekadar hitam-putih, tapi dari sudut pandang orang biasa di Iran yang terjebak di tengah kekacauan. Mari kita bedah bareng, santai tapi jujur.

Harapan yang Awalnya Membara

Di akhir 2025 hingga awal 2026, protes anti-rezim di Iran pecah lagi besar-besaran. Mulai dari demonstrasi soal inflasi gila-gilaan, harga makanan melonjak, rial anjlok, sampai tuntutan kebebasan lebih luas. Banyak yang teriak “Death to the Dictator” atau “Neither Gaza nor Lebanon, My Life for Iran”. Artinya, mereka capek rezim lebih mementingkan proxy di luar negeri daripada rakyat sendiri.

Saat itu, sebagian warga—terutama generasi muda dan mahasiswa—mulai berpikir: mungkin AS dan Israel bisa bantu percepat jatuhnya rezim. Ada yang bilang, “Akhirnya ada yang berani tekan mereka!” Beberapa bahkan berharap Reza Pahlavi (putra mantan Shah) bakal terlibat dalam transisi. Leila, seorang perempuan 25 tahun yang diwawancarai media, sempat bilang dia yakin Republik Islam bakal runtuh dan AS-Israel sudah sepakat soal masa depan Iran.

Harapan itu wajar. Rezim Iran memang punya sejarah panjang represi: demonstrasi Mahsa Amini 2022, penembakan protes, internet blackout, sampai eksekusi massal. Ekonomi hancur karena sanksi plus korupsi dan dana yang mengalir ke Hizbullah atau Hamas. Jadi, ketika serangan luar mulai terjadi, banyak yang awalnya melihatnya sebagai “pukulan telak buat rezim”.

Tapi, realita di lapangan cepat berubah.

Serangan yang Bikin Semuanya Berbalik

Ketika perang antara Israel-AS melawan Iran memanas—termasuk serangan udara ke target militer, nuklir, dan infrastruktur—dampaknya langsung dirasakan rakyat sipil. Listrik padam berhari-hari, air bersih susah, rumah-rumah rusak, bahkan sekolah dan fasilitas umum kena imbas. Bukan cuma basis IRGC (Pasukan Garda Revolusi) yang kena, tapi kehidupan sehari-hari orang biasa ikut terganggu.

Di sinilah psikologi massa berubah drastis. Orang yang tadinya anti-rezim mulai bilang: “Rezim memang jahat, tapi sekarang kami diserang negara asing. Ini bukan pembebasan, ini invasi!”

Banyak wawancara dengan warga Tehran dan kota lain menunjukkan pola yang sama. Awalnya optimis rezim bakal jatuh cepat. Tapi setelah korban sipil bertambah dan kota-kota porak-poranda, kemarahan bergeser. Mereka kutuk rezim karena bawa negara ke situasi perang, tapi juga kutuk Israel-AS karena “menghancurkan Iran demi kepentingan sendiri”.

Satu mahasiswa yang diwawancarai The Guardian bilang, “Kami ingin perubahan, tapi bukan lewat bom yang bikin kami kelaparan besok.” Perasaan ini kuat sekali di kalangan yang tinggal di dalam Iran, berbeda dengan sebagian diaspora di luar negeri yang lebih antusias lihat serangan ke rezim.

Alasan Utama Mengapa Kutukan Berbalik ke Israel-AS

1. Rasa Nasionalisme yang Bangkit di Tengah Serangan

Orang Iran, seperti bangsa mana pun, punya rasa bangga terhadap tanah air. Ketika negara diserang dari luar, insting “kami vs mereka” langsung muncul. Rezim pintar memanfaatkan ini lewat propaganda: “Lihat, musuh Zionis dan Amerika ingin hancurkan Iran!” Meski banyak yang tahu rezim bohong, tetap saja serangan nyata bikin orang defensif.

Analogi sederhananya kayak keluarga yang lagi ribut internal. Kalau tetangga tiba-tiba datang ngebom rumah, seketika semua anggota keluarga bersatu hadapi tetangga itu dulu, baru lanjut ribut internal. Begitu yang terjadi di Iran sekarang.

2. Kerusakan Sipil yang Terasa Langsung

Serangan militer jarang 100% tepat sasaran. Meski target utama basis militer atau pemimpin rezim, dampak sampingannya—blackout listrik, kekurangan bahan bakar, gangguan pasokan makanan—langsung menyiksa rakyat biasa. Yang tadinya cuma protes ekonomi, sekarang tambah susah hidup.

Seorang warga bilang, “Saya benci Khamenei, tapi sekarang saya benci juga yang bikin anak saya kelaparan karena perang ini.” Emosi seperti ini yang bikin narasi “Israel-AS musuh bersama” jadi kuat.

3. Propaganda Rezim yang Masih Efektif

Rezim Iran punya mesin propaganda yang sudah puluhan tahun terlatih. TV negara, media afiliasi, dan masjid-masjid terus bilang bahwa protes anti-rezim adalah “konspirasi AS-Israel”. Ketika serangan benar-benar terjadi, narasi itu jadi “terbukti”. Banyak warga yang ragu-ragu akhirnya condong ke sisi rezim, setidaknya sementara, karena merasa “kami diserang sebagai bangsa Iran, bukan cuma rezimnya”.

4. Sejarah Trauma Intervensi Asing

Iran punya memori panjang soal campur tangan luar negeri. Kudeta 1953 yang didukung AS-Inggris buat gulingkan PM Mossadegh masih diingat. Revolusi 1979 lahir dari penolakan terhadap pengaruh Barat. Jadi, ketika AS dan Israel terlibat, banyak yang langsung curiga: “Mereka mau bebaskan kami atau mau kuasai minyak dan wilayah kami?”

Bahkan oposisi di luar negeri pun terpecah. Ada yang dukung serangan karena lihatnya sebagai peluang jatuhkan rezim, tapi banyak juga yang bilang “Kami mau kebebasan dengan tangan sendiri, bukan lewat perang yang hancurkan negara.”

5. Realita Perang yang Tak Romantis

Di media sosial atau berita luar, serangan sering digambarkan sebagai “operasi presisi lawan rezim jahat”. Tapi di lapangan, perang selalu kacau. Orang lihat teman, keluarga, atau tetangga menderita. Harapan “rezim jatuh dalam seminggu dan semuanya baik-baik saja” buyar. Yang tersisa adalah kemarahan ke semua pihak: rezim yang provokatif, plus kekuatan asing yang bikin situasi makin parah.

Perbedaan Pandangan: Di Dalam vs Di Luar Iran

Menariknya, suara ini tidak seragam. Diaspora Iran di Los Angeles, Berlin, atau London sering lebih antusias lihat tekanan ke rezim. Banyak yang kabur dari represi dan berharap perubahan cepat. Tapi buat yang masih tinggal di Iran, prioritasnya beda: selamatkan nyawa dan kehidupan sehari-hari dulu.

Ini mirip kasus di banyak negara konflik. Yang di dalam lebih pragmatis dan nasionalis, yang di luar lebih idealis soal demokrasi.

Rezim sendiri juga pintar main narasi. Mereka gelar demonstrasi pro-pemerintah dengan spanduk “Death to America, Death to Israel”, meski sebagian peserta mungkin terpaksa atau dimobilisasi. Tapi efeknya tetap: memperkuat persepsi bahwa serangan luar justru menyatukan rakyat melawan “musuh bersama”.

Apa yang Bisa Dipelajari dari Fenomena Ini?

Pertama, perubahan politik di negara seperti Iran tidak semudah yang dibayangkan dari jauh. Rezim otoriter punya alat represi kuat plus kemampuan memanfaatkan serangan luar untuk bertahan.

Kedua, intervensi militer sering punya efek bumerang. Alih-alih disambut sebagai pembebas, malah bikin rakyat berbalik defensif.

Ketiga, harapan warga Iran sebenarnya sederhana: hidup layak, kebebasan dasar, dan masa depan tanpa takut. Mereka muak rezim, tapi juga muak jadi korban perang proxy atau serangan asing.

Banyak analis bilang, solusi terbaik tetap dari dalam: protes damai yang masif, dukungan internasional yang cerdas (bukan bom), dan tekanan ekonomi yang targeted ke elit rezim, bukan rakyat biasa.

Tapi di tengah perang yang sedang berlangsung, semua itu terasa jauh. Yang terdekat adalah penderitaan sehari-hari.

Kesimpulan: Kutukan untuk Semua Pihak

Jadi, kenapa warga Iran yang mau tumbangkan rezim berbalik kutuk Israel-AS? Karena perang bukan solusi ajaib. Ia bawa kehancuran yang dirasakan langsung oleh orang biasa, membangkitkan nasionalisme, dan memberi amunisi propaganda buat rezim.

Mereka masih benci pemimpin yang menindas. Tapi sekarang, kemarahan itu tercampur dengan amarah ke pihak luar yang dianggap memperburuk situasi. “Kalian semua sama buruknya,” begitu kira-kira suara banyak warga yang terjebak.

Fenomena ini mengingatkan kita bahwa politik Timur Tengah selalu rumit. Tidak ada pahlawan sempurna atau penjahat tunggal. Yang ada hanyalah manusia biasa yang ingin hidup tenang, tapi terperangkap dalam permainan kekuasaan besar.

Kalau kamu punya pengalaman atau pendapat soal isu ini, share di komentar ya. Bagaimana menurutmu, bisakah Iran berubah tanpa intervensi luar yang destruktif?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *