Banjir Bekasi 2026 kembali melanda wilayah Kabupaten dan Kota Bekasi pada pertengahan Januari 2026 akibat hujan lebat berkepanjangan. Ribuan kepala keluarga terdampak, ratusan warga terpaksa mengungsi, dan aktivitas sehari-hari lumpuh. Kejadian ini menyoroti kerentanan kawasan perkotaan terhadap cuaca ekstrem Indonesia dan pentingnya prediksi BMKG yang akurat.
Hujan deras sejak 17 Januari 2026 menyebabkan luapan sungai dan genangan luas. Di Kabupaten Bekasi, 16 kecamatan terendam dengan ribuan KK terdampak. Warga di permukiman padat seperti Tambun Utara dan Cikarang Utara paling parah. Kondisi ini mirip dengan banjir Jakarta yang terjadi bersamaan, menunjukkan pola dampak bencana regional akibat drainase buruk dan urbanisasi cepat.
Artikel ini membahas kronologi lengkap banjir Bekasi 2026, dampak langsung pada warga termasuk pengungsian massal, analisis prediksi BMKG cuaca ekstrem, kaitannya dengan banjir di ibu kota, serta upaya penanganan pemerintah. Informasi ini penting bagi penduduk perkotaan yang rentan terhadap bencana serupa agar lebih siap menghadapi risiko musim hujan puncak Januari 2026.
Kronologi Kejadian Banjir Bekasi 2026
Hujan deras mengguyur Bekasi mulai Sabtu 17 Januari 2026 malam hingga Minggu 18 Januari pagi. Curah hujan tinggi memicu luapan Kali Bekasi, CBL, dan sungai-sungai kecil. Genangan mencapai 10-200 cm di permukiman warga.
Di Kabupaten Bekasi, 16 dari 23 kecamatan terendam. Wilayah terparah meliputi Tambun Utara, Cibitung, Cikarang Utara, dan Srimukti. Data awal mencatat 4.622 KK atau sekitar 5.344 jiwa terdampak langsung. Banyak rumah terendam hingga atap, memaksa warga naik ke lantai dua atau meninggalkan rumah.
Kota Bekasi juga tidak luput. Genangan merendam ruas jalan utama dan permukiman padat. Wali Kota Bekasi Tri Adhianto langsung mengecek pintu air Prisdo dan memerintahkan siaga banjir penuh. Hujan terus berlanjut hingga 20 Januari, memperburuk situasi di daerah dataran rendah.
Penyebab utama termasuk pendangkalan sungai, sampah menyumbat saluran, dan tata ruang yang belum optimal. Pemerintah daerah mengakui sungai-sungai belum berfungsi maksimal sebagai drainase alami.
Dampak Banjir terhadap Warga dan Pengungsian
Dampak banjir Bekasi 2026 sangat dirasakan warga perkotaan. Ribuan rumah rusak, perabot hanyut, dan stok makanan rusak. Anak-anak kehilangan akses sekolah sementara, sementara pekerja informal kehilangan penghasilan harian.
Ratusan warga terpaksa mengungsi. Di Kabupaten Bekasi, BPBD membuka 20 titik pengungsian darurat. Di Kota Bekasi, ratusan jiwa dari Kelurahan Pegangsaan Dua dan sekitarnya mengungsi ke balai desa atau rumah kerabat. Kondisi pengungsian padat menimbulkan risiko kesehatan seperti diare dan infeksi kulit.
Kerugian materiil mencapai miliaran rupiah. Sawah dan lahan pertanian terendam mengancam panen. Aktivitas ekonomi lumpuh dengan jalan protokol tertutup genangan. Dampak psikologis juga besar, terutama bagi keluarga miskin yang berulang kali menghadapi bencana serupa setiap musim hujan.
Pemerintah pusat turun tangan cepat. BNPB menyediakan bantuan sembako 200 paket, makanan siap saji, air mineral, selimut, dan matras untuk korban. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau langsung lokasi di Desa Srimukti untuk memastikan pendampingan warga terpenuhi.
Prediksi Cuaca Ekstrem BMKG untuk Indonesia
Prediksi BMKG menjadi sorotan utama di tengah banjir Bekasi 2026. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memperingatkan potensi cuaca ekstrem Indonesia hingga akhir Januari 2026. Bibit siklon tropis memperkuat konvergensi di wilayah selatan, menyebabkan hujan sangat lebat hingga ekstrem di Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan sekitarnya.
Prospek cuaca mingguan 20-26 Januari 2026 menunjukkan curah hujan tinggi masih mengintai. Puncak musim hujan Januari 2026 berpotensi menimbulkan banjir lanjutan di daerah rawan. BMKG juga waspada terhadap angin kencang dan petir yang menyertai hujan lebat.
Wilayah Bekasi dan Jakarta termasuk dalam zona merah. Prakiraan hujan sangat lebat pada 21 Januari 2026 di Jawa Barat menambah kekhawatiran warga. Secara keseluruhan, 94,7% wilayah Indonesia mengalami curah hujan normal hingga tinggi sepanjang 2026, tetapi pola ekstrem tetap tinggi di awal tahun.
Hubungan Banjir Bekasi dengan Banjir Jakarta
Banjir Bekasi 2026 tidak berdiri sendiri. Kejadian ini terkait erat dengan banjir Jakarta yang melanda hampir bersamaan. Banjir merendam 48 RT dan 29 ruas jalan di ibu kota, memaksa ratusan warga Kelapa Gading dan Koja mengungsi. Luapan Kali Ciliwung dan sistem drainase buruk menjadi pemicu utama.
Kedua wilayah saling memengaruhi karena topografi dataran rendah dan aliran sungai lintas batas. Urbanisasi cepat di pinggiran Jakarta termasuk Bekasi memperburuk penurunan tanah dan berkurangnya ruang resapan air. BRIN menyebut kombinasi urbanisasi, penurunan muka tanah, dan drainase buruk sebagai penyebab utama banjir berulang.
Keterkaitan ini menekankan perlunya pendekatan regional dalam mitigasi dampak bencana.
Upaya Penanganan dan Mitigasi Jangka Panjang
Pemkab Bekasi mempercepat penanganan dengan sodetan kali, pembangunan tanggul, dan normalisasi sungai. Plt. Bupati Bekasi meninjau langsung lokasi untuk memastikan evakuasi cepat. Pemkot Bekasi meningkatkan siaga dengan monitoring pintu air secara intensif.
BNPB dan pemerintah pusat memberikan bantuan logistik serta pendampingan psikososial. Untuk jangka panjang, perbaikan tata ruang, penghijauan, dan pembangunan infrastruktur drainase modern menjadi prioritas. Masyarakat diimbau tidak membuang sampah sembarangan dan meningkatkan kesiapsiagaan pribadi.
Kesimpulan
Banjir Bekasi 2026 memberikan pelajaran berharga tentang kerentanan wilayah perkotaan terhadap cuaca ekstrem Indonesia. Ribuan warga terdampak, ratusan mengungsi, dan prediksi BMKG menunjukkan risiko lanjutan hingga akhir Januari. Kolaborasi pemerintah, BMKG, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk mengurangi dampak bencana di masa mendatang.
Waspadalah terhadap peringatan dini BMKG dan siapkan rencana darurat keluarga. Bagikan pengalaman Anda di kolom komentar atau sebarkan artikel ini agar lebih banyak orang siap menghadapi musim hujan.
FAQ
Apa penyebab utama banjir Bekasi 2026? Hujan lebat ekstrem, drainase buruk, pendangkalan sungai, dan tata ruang belum optimal.
Bagaimana kondisi warga yang mengungsi? Ratusan jiwa di pengungsian darurat dengan bantuan logistik dari BNPB dan pemerintah daerah.
Apakah BMKG memprediksi hujan lanjutan? Ya, potensi hujan sangat lebat hingga akhir Januari 2026 di Jawa Barat dan DKI Jakarta.
Apakah banjir Bekasi terkait banjir Jakarta? Ya, karena aliran sungai lintas wilayah dan masalah urbanisasi serupa.
Apa yang bisa dilakukan warga untuk mitigasi? Jaga kebersihan saluran air, ikuti peringatan BMKG, dan siapkan tas darurat.






